Saat Cinta Itu Datang

Posted: 19 October, 2008 in Cinta, Emosi, Perasaan, Perempuan, Perjalanan, Prinsip Hidup
“Saat cinta itu datang, aku tak mampu untuk berbuat apa-apa. Tidak juga merelakan tapi tidak juga menafikan kehadirannya,” patah-patah bicara Sa pada aku.

Berat benar ceritanya itu, di satu petang sebegitu di saat kami menghabiskan masa bersama dengan riadah. Dia telah punya segala kebahagiaan yang dia perlukan. Tidak perlu sebab untuk menerima cinta yang berputik. Ini bukan soal takdir dan waktu.

“Si dia juga seperti mereka yang lain, perlukan bimbingan dan dorongan. Perlu jiwa yang menyayangi dan perlu kekuatan dari kekuatan yang lain. Aku tak pernah mengambil kesempatan atas kelemahan mereka itu Shimi”, Sa menerangkan lagi.

“Tapi aku takut kau semakin jauh dari batas sedar diri kau Sa. Kehendak dan suara hati itu kadang-kadang tidak mampu dikawal. Ia tak semudah kita berkata-kata. Jangan bermain api, nanti kau terbakar diri”, kali ini aku mencelah dan beri penegasan.

“Senanglah kau berkata-kata seperti madah-madah indah dalam novel. Aku yang merasainya, aku yang mengalaminya. Aku tahu aku telah punya dia, tapi tiada niat untuk mengecewakan dan curang. Aku terperangkap dalam permainan yang aku cipta,” Sa melepaskan rasa tidak puas hatinya.

“Sa, aku kawan yang selalu kau luahkan perasaan susah senang. Aku tak mahu kau terbeban dengan perasaan sebegitu yang tidak menjanjikan apa-apa kepastian. Niat murni untuk menolong itu baik, tapi perlu ada batas dan prinsipnya. Pertolongan dan jatuh hati itu dua keadaan berbeza, hati tidak perlu hadir bersamanya. Jangan permainkan hati perempuan Sa. Jangan dilukai hati mereka”, perlahan nada tutur kata-kataku pada Sa.

Ia terhenti setakat itu kerana rintik hujan mencemburui riadah kami. Sa dan aku hanya tunduk diam di tempat berteduh sambil melayani perasaan masing-masing yang sarat. Seperti saratnya langit dengan awan hujan pada petang itu.

Hujan lewat petang itu, aku masih tunduk diam. Teringat sajak yang aku sukai – Jangan Dilukai Hati Perempuan

Advertisements
Comments
  1. whitetulip says:

    jangan dilukai hati perempuan?tak…jan melukai hati sesama kita…

  2. Bunga Rampai says:

    Melukai jangan. Dilukai tak mengapa – parut yang tinggal bisa mengajar hati mengenal cinta Agung.

    Salam šŸ™‚

  3. SHIMI says:

    white tulip : kita tidak berhak melukai hati sesiapa pun

    bunga rampai : keduanya harus jangan

  4. Sufi Idany says:

    luka di lukai…. igt lagu shima dulu2… perlu ke kita melukakan ati org lain? atau mungkin kita akan terluka dan terus membilang luka serta jenuh menghabiskan sisa2 usia utk membebat luka itu?

    semua ada pilihannya… apa kata hati ?

  5. SHIMI says:

    sufi idany : hati ini tidak mampu berkata apa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s